Apa Itu ADHD? Gejala, Penyebab & Penanganannya | Diagnos

.

Apa Itu ADHD? Gejala, Penyebab & Penanganannya | Diagnos

ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur tingkat aktivitas fisik. Kondisi ini umumnya terdiagnosis pada anak-anak tetapi dapat berlanjut hingga dewasa.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 5% anak-anak di dunia memiliki ADHD, sementara pada orang dewasa, prevalensinya sekitar 2-3%. Di Indonesia, data dari Kementerian Kesehatan (2023) menunjukkan bahwa 1 dari 20 anak menunjukkan gejala ADHD, meskipun banyak yang belum terdiagnosis secara resmi.

ADHD terbagi menjadi tiga tipe utama berdasarkan gejala yang dominan:

  1. Tipe Kurang Perhatian (Inattentive)
    • Sulit fokus pada tugas atau aktivitas
    • Sering lupa atau kehilangan barang
    • Mudah teralihkan oleh hal-hal di sekitarnya
    • Menghindari tugas yang membutuhkan konsentrasi lama
  2. Tipe Hiperaktif-Impulsif
    • Tidak bisa diam, sering gelisah atau berlari-lari
    • Bicara berlebihan dan sulit menunggu giliran
    • Sering menyela pembicaraan orang lain
    • Bertindak tanpa berpikir (impulsif)
  3. Tipe Kombinasi
    • Memiliki gejala kurang perhatian dan hiperaktif-impulsif
    • Pada anak perempuan, gejala ADHD sering berupa kurang perhatian, bukan hiperaktif, sehingga sering terlewatkan.
    • Pada orang dewasa, ADHD dapat muncul sebagai kesulitan mengatur waktu, pelupa, atau kecenderungan mengambil risiko.

Penyebab pasti ADHD belum diketahui, tetapi beberapa faktor berperan:

  1. Faktor Genetik
    • Risiko ADHD lebih tinggi jika ada riwayat keluarga
    • Penelitian menemukan keterlibatan gen seperti DRD4 dan DAT1. Gen DRD4 dan DAT1 adalah gen yang berperan penting dalam mengatur fungsi dopamin di otak, terutama terkait konsentrasi, motivasi, dan kontrol impuls. Keduanya sering diteliti dalam kaitannya dengan ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder) dan kondisi neuropsikiatri lainnya
  2. Perkembangan Otak
    • Perbedaan struktur otak, terutama di prefrontal cortex (area pengendali perhatian)
    • Ketidakseimbangan neurotransmiter (hormon) seperti dopamin dan norepinefrin
  3. Faktor Lingkungan
    • Paparan zat berbahaya saat hamil (rokok, alkohol)
    • Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah
    • Stres berat pada masa kanak-kanak

Diagnosis harus dilakukan oleh psikiater atau psikolog klinis melalui:

  1. Wawancara mendalam dengan orang tua/guru
  2. Observasi perilaku anak
  3. Skala penilaian seperti Conners Rating Scale
  4. Pemeriksaan tambahan (tes pendengaran, penglihatan, atau laboratorium jika diperlukan)
    • Diagnosis biasanya baru ditegakkan setelah gejala berlangsung minimal 6 bulan.
  1. Terapi Non-Obat
    • Terapi Perilaku: Melatih anak mengatur emosi dan tugas
    • Psikoedukasi Orang Tua: Cara mendampingi anak ADHD
    • Okupasi Terapi: Membantu anak meningkatkan fokus dan koordinasi
  2. Obat-Obatan
    • Stimulan contohnya Methylphenidate : Meningkatkan fokus
    • Non-Stimulan contohnya Atomoxetine : Untuk yang tidak cocok dengan stimulan
    • Obat Pendukung: Jika ada gangguan penyerta seperti cemas atau depresi
  3. Dukungan di Sekolah
    • IEP (Individualized Education Plan): Modifikasi cara belajar
    • Guru Pendamping Khusus: Membantu anak tetap fokus
  1. Buat rutinitas harian yang terstruktur
  2. Beri instruksi singkat dan jelas
  3. Gunakan sistem reward untuk perilaku positif
  4. Hindari hukuman fisik
  5. Cari komunitas pendukung (misal: orangtua penderita ADHD Indonesia)

ADHD bukan akhir segalanya. Dengan dukungan dan penanganan yang tepat, anak dengan ADHD justru sering menunjukkan kreativitas luar biasa dan potensi sukses yang unik. Dukungan profesional dan pemeriksaan tepat menjadi langkah awal untuk membantu anak ADHD meraih potensi terbaiknya.
Jika Anda tertarik untuk melakukan tes DNAandMe di Laboratorium Diagnos. Anda dapat melakukan pendaftaran di aplikasi DNAandMe atau dapat menghubungi Call Center Diagnos di 1500-358 atau di Whatsapp Call Center di 08551500358.

Baca Juga : Gejala Down Syndrome pada Bayi Baru Lahir: Panduan untuk Orang Tua

Referensi :

  1. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5-TR). Diakses Juli 2025.
  2. World Health Organization (WHO). Mental Health: ADHD. Diakses Juli 2025. https://www.nature.com/articles/s41598-025-94687-7
  3. ADHD Foundation. (2023). Living with ADHD. Diakses Juli 2025.

ARTIKEL KESEHATAN

Artikel Lainnya yang Sesuai

Dapatkan update seputar artikel kesehatan, info dan news terbaru dari Laboratorium Diagnos

Scroll to Top
Open chat
Halo sobat Diagnos 👋
ada yang bisa kami bantu ?