Anoreksia Nervosa: Gejala, Penyebab & Cara Atasi

.

Banyak orang mengira anoreksia hanyalah kebiasaan “tidak mau makan” atau hasil dari diet berlebihan. Padahal, anoreksia adalah gangguan kesehatan serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir tentang tubuhnya, mengatur makan, dan memandang dirinya sendiri. Kondisi ini bukan sekadar masalah kurang nutrisi, tetapi gangguan kompleks yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Anoreksia dapat menyebabkan penurunan berat badan ekstrem, perubahan fungsi hormon, gangguan organ tubuh, hingga mengancam nyawa bila tidak ditangani. Oleh karena itu, memahami gejalanya sejak dini sangat penting agar keluarga dan masyarakat dapat memberikan dukungan yang tepat.

  1. Membatasi asupan makanan secara ekstrem, bahkan saat tubuh sudah kekurangan energi.
  2. Takut berlebihan terhadap kenaikan berat badan.
  3. Gambaran tubuh yang terdistorsi contohnya merasa gemuk walaupun sebenarnya sangat kurus.

Anoreksia bisa terjadi pada siapa saja, namun lebih sering pada:

  • Remaja, terutama perempuan usia 12–25 tahun
  • Individu dengan tekanan lingkungan tentang bentuk tubuh (penari, model, atlet tertentu)
  • Orang dengan kepribadian perfeksionis
  • Mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan gangguan makan
  • Individu yang mengalami trauma atau bullying terkait berat badan

1. Gejala Fisik

  • Berat badan turun drastis
  • Tidak menstruasi (amenorea) pada perempuan
  • Mudah lelah, pusing
  • Rambut rontok, kulit kering
  • Suhu tubuh rendah, sering merasa kedinginan
  • Detak jantung lambat
  • Tumbuh rambut halus di tubuh (lanugo)

2. Gejala Psikologis

  • Takut makan makanan tertentu (misalnya karbohidrat atau lemak)
  • Takut naik berat badan meskipun sudah sangat kurus
  • Merasa tubuh “besar” pada area tertentu
  • Obsesif menghitung kalori makanan
  • Perfeksionis ekstrem
  • Mudah marah atau menarik diri dari keluarga

3. Perilaku yang Perlu Diwaspadai

  • Memotong makanan menjadi sangat kecil-kecil
  • Berolahraga berlebihan
  • Mengaku sudah makan, padahal belum
  • Membandingkan tubuh dengan orang lain secara obsesif
  • Menghindari makan bersama keluarga

Ketika tubuh tidak mendapat cukup energi, seluruh organ mulai melambat:

1. Jantung

Kalori sangat rendah membuat jantung berdetak lambat, meningkatkan risiko serangan jantung mendadak meningkat.

2. Otak

Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan gangguan di otak sebagai berikut :

  • Konsentrasi menurun
  • Depresi, kecemasan
  • Pikiran obsesif terhadap berat badan

3. Hormon

Hormon estrogen & testosteron akan menurun menyebabkan gangguan berikut :

  • Menstruasi berhenti
  • Tulang menjadi rapuh (osteoporosis dini)

4. Sistem Pencernaan

Lambung akan mengalami gangguan yang menimbulkan gejala perut terasa penuh cepat, sembelit berat.

5. Sistem Imunitas

Tubuh mudah sakit karena tidak punya energi untuk melawan infeksi.

Karena itu, anoreksia bukan masalah diet yang bisa dibiarkan, tetapi kondisi medis dan psikologis yang memerlukan penanganan profesional.

Penyebabnya bisa berbagai faktor sebagai berikut :

1. Faktor Biologis

Beberapa penelitian menunjukkan adanya ketidakseimbangan neurotransmitter otak, seperti serotonin dan dopamin, yang mengatur rasa lapar dan kecemasan.

2. Faktor Psikologis

  • Perfeksionis
  • Merasa tidak cukup baik
  • Kesulitan mengendalikan emosi
  • Trauma atau bullying

3. Faktor Lingkungan

  • Tekanan sosial untuk “lebih kurus”
  • Standar kecantikan media sosial
  • Komentar dari keluarga/teman

Diagnosis tidak hanya berdasarkan fisik, tetapi juga perilaku dan psikologis.

Biasanya mencakup:

  • Wawancara klinis
  • Pemeriksaan berat badan, Body Mass Index, dan tanda vital
  • Pemeriksaan laboratorium
  • Pemeriksaan genetik
  • Penilaian psikologis

Pada beberapa pemeriksaan genetik modern seseorang bisa mendapatkan informasi mengenai risiko bawaan (genotype-based risk) untuk mengalami anoreksia lebih dini. Jika ingin mengetahui faktor genetik yang berperan, Anda dapat melakukan pemeriksaan genetik melalui program DNAandMe di Laboratorium Diagnos.

Namun, karena anoreksia adalah gangguan perilaku dan psikologis, maka dokter biasanya akan melengkapi evaluasi dengan pemeriksaan laboratorium untuk menilai dampak kesehatan yang mungkin sudah terjadi akibat pembatasan makan. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan meliputi:

  1. Elektrolit (natrium, kalium, klorida) → untuk melihat tanda dehidrasi atau gangguan jantung.
  2. Fungsi ginjal & hati → karena malnutrisi dapat membuat organ bekerja lebih keras.
  3. Gula darah (glukosa) → untuk mendeteksi risiko hipoglikemia.
  4. Hormon tiroid & hormon reproduksi → kadar bisa menurun saat berat badan terlalu rendah.
  5. Vitamin & mineral (B12, folat, ferritin, vitamin D) → sering menurun pada pasien dengan pembatasan makan.
  6. EKG (walau bukan lab, sering disertakan) → untuk mendeteksi aritmia akibat kekurangan elektrolit.

Dengan menggabungkan informasi genetik dan pemeriksaan laboratorium, dokter dapat menilai apakah seseorang hanya memiliki risiko, atau sudah mulai menunjukkan dampak klinis dari pola makan yang tidak sehat.

Apabila ditemukan kelainan misalnya elektrolit rendah, anemia, atau hormon terganggu maka intervensi medis dan psikologis dapat dilakukan lebih cepat, sehingga risiko komplikasi serius bisa ditekan sejak awal.

Tidak ada satu obat yang bisa langsung menyembuhkan anoreksia. Pendekatan terbaik adalah terapi multi-disiplin:

1. Konseling Psikologis

Bentuk terapi utama adalah CBT-E (Cognitive Behavioral Therapy – Enhanced)
Tujuannya:

  • Meluruskan pikiran keliru tentang tubuh
  • Mengurangi ketakutan makan
  • Memperbaiki hubungan dengan makanan

2. Pemulihan Nutrisi

Dipandu oleh dokter & ahli gizi. Fokusnya:

  • Mengembalikan berat badan aman
  • Mengatur pola makan teratur
  • Mengatasi rasa “takut makan” bertahap

3. Terapi Obat

Digunakan bila ditemukan gejala berikut :

  • Depresi
  • Kecemasan
  • Obsesif kompulsif

4. Keterlibatan Keluarga

Untuk remaja, metode Family-Based Treatment (FBT) sangat efektif, keluarga membantu proses makan dan pemulihan.

5. Rawat Inap

Diperlukan jika:

  • Berat badan sangat rendah
  • Denyut jantung lambat
  • Risiko bunuh diri
  • Tidak bisa makan sama sekali

Bisa. Tetapi butuh waktu dengan dukungan keluarga, terapi teratur, dan edukasi terus-menerus, tingkat kesembuhan cukup tinggi. Banyak pasien bisa kembali sekolah, bekerja, dan menjalani hidup normal.

Beberapa langkah sederhana namun penting:

  • Jangan mengomentari bentuk tubuh penderita (baik kurus maupun gemuk).
  • Dengarkan penderita tanpa menghakimi.
  • Tawari bantuan untuk menemui psikolog atau dokter.
  • Jangan memaksa penderita makan  itu dapat memperburuk kecemasan.
  • Edukasi keluarga bahwa anoreksia merupakan penyakit medis

Jika Anda tertarik untuk melakukan pemeriksaan risiko anoreksia di Laboratorium Diagnos melalui layanan DNAandMe, Anda dapat mendaftar langsung via aplikasi DNAandMe atau menghubungi Call Center Diagnos di 1500-358. Anda juga dapat menghubungi WhatsApp Call Center di 0855-1500-358 untuk informasi dan pendaftaran.

BACA JUGA : Tes Farmakogenomik: Cegah Efek Samping Obat Sejak Dini

Referensi :

  1. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition (DSM-5). American Psychiatric Publishing; 2013.
  2. Royal College of Psychiatrists. Guidelines for Eating Disorders. 2019.

ARTIKEL KESEHATAN

Artikel Lainnya yang Sesuai

Dapatkan update seputar artikel kesehatan, info dan news terbaru dari Laboratorium Diagnos

Scroll to Top
Open chat
Halo sobat Diagnos 👋
ada yang bisa kami bantu ?