Pelajari pentingnya deteksi dini kanker serviks, gejala awal yang harus diwaspadai, penyebab seperti HPV, metode diagnosa seperti Pap Smear, dan cara pencegahannya.Menurut data Globocan–WHO tahun 2022, kanker serviks atau kanker leher rahim merupakan kanker kedua terbanyak di Indonesia. Berdasarkan laporan dari GLOBOCAN 2022, terdapat 36.964 kasus baru serta 20.708 kematian yang disebabkan kanker serviks pada tahun 2022 di Indonesia. Hal ini menandakan terdapat 100 kasus kanker serviks yang terdeteksi setiap harinya.
Apa itu kanker serviks?
Kanker serviks adalah salah satu jenis kanker yang paling banyak dialami oleh Wanita Indonesia, penyebabnya adalah paparan infeksi Human Papilloma virus tipe high risk.1 Serviks atau leher rahim adalah bagian rahim yang terhubung ke vagina. Fungsi serviks adakah melindungi rahim dari mikroorganisme luar penyebab penyakit dan memproduksi lendir yang membantu menyalurkan sperma dari vagina ke rahim saat berhubungan seksual.
Kanker serviks terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
- Karsinoma sel skuamosa (KSS) : jenis kanker serviks yang bermula dari sel skuamosa serviks yaitu sel yang melapisi bagian luar leher rahim.
- Adenokarsinoma : jenis kanker serviks yang bermula dari sel kelenjar pada saluran leher rahim.
Gejala Awal Kanker Serviks ?
Gejala kanker serviks seringkali baru disadari saat sudah memasuki stadium lanjut, keluhan yang dialami pada penderita kanker serviks antara lain :
- Perdarahan melalui vagina di luar masa menstruasi, setelah berhubungan seksual atau setelah menopause.
- Nyeri saat berhubungan seksual (dyspareunia)
- Keluar cairan berbau dari vagina
- Nyeri di daerah panggul
Penyebab Utama Kanker Serviks
Penyebab kanker serviks sampai saat ini masih belum diketahui, namun lebih dari 99% kasus kanker leher rahim adalah infeksi HPV (Human papilloma virus). Jenis virus HPV yang terkait dengan kanker serviks ada 15 jenis, yang paling utama adalah HPV 16 dan HPV 18.
Penyakit kanker serviks akan meningkat risiko nya apabila seseorang memiliki riwayat sebagai berikut :
- Memiliki pasangan seksual lebih dari satu
- Mulai berhubungan seksual pada usia dini
- Memiliki penyakit infeksi menular seksual seperti sifilis, gonore atau klamidia
- Merokok
- Konsumsi pil KB lebih dari 5 tahun
- Primipara atau melahirkan anak lebih dari 5
- Melahirkan dibawah usia 17 tahun
Pentingnya Diagnosa Tepat Waktu
Deteksi dini kanker serviks dapat meningkatkan keberhasilan pengobatan dan kesembuhan pasien. Oleh karena itu skrining Kanker serviks bisa di mulai sejak usia 21 tahun dengan berbagai pemeriksaan sebagai berikut :
- Pemeriksaan IVA : pemeriksaan ini dilakukan di fasilitas kesehatan dengan memeriksan langsung di vagina pasien menggunakan alat khusus yang dinamakan spekulum (cocor bebek). Dokter akan mengoleskan larutan asam asetat di permukaan serviks. Semakin tinggi stadium prakanker akan semakin jelas warna putih di leher rahim pasien.
- Pap smear : pemeriksaan ini juga langsung dilakukan di vagina pasien menggunakan spekulum dan dokter akan mengambul sampe di leher rahim menggunakan alat khusus, selanjutnya sel akan di teliti di laboratorium.
- Pemeriksaan HPV DNA : Pemeriksaan ini sama seperti pap smear tetapi tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi keberadaan virus HPV yang memicu kanker serviks. Pemeriksaan HPV DNA merupakan tes yang paling direkomendasikan oleh WHO sebagai skrining awal dibandingkan dengan tes IVA atau Pap smear. Pemeriksaan HPV DNA dapat mendeteksi agen penyebab kanker serviks bahkan sebelum timbulnya lesi pra kanker, sehingga penanganan secara dini lebih optimal.4
Selain tiga pemeriksaan invasive di atas, terdapat juga pemeriksan non invasive yang menggunakan HPV DNA urin yang tentu nya lebih nyaman dan mengurangi rasa kekhawatiran pasien terhadap pemeriksaan.
Laboratorium Diagnose menghadirkan pemeriksaan HPV DNA mandiri dan tidak invasif menggunakan sampel spesimen urin yang tentunya lebih mudah dan membuat lebih nyaman namun tetap dapat mendeteksi tipe virus HPV yang high risk.
Perbandingan Sensitivitas dan Spesifitas Pemeriksaan Pap Smear dengan HPV-DNA
| Sensitivitas | Spesifitas | |
| PAP smear tes | 56,4 % | 97,3 % |
| HPV – DNA tes | 97,4 % | 94,3 % |
| PAP smear tes dilanjutkan HPV tes | 53,8 % | 98,7% |
| HPV – DNA tes dilanjutkan PAP smear tes | 53,8 % | 99,1 % |
| PAP smear tes + HPV DNA tes | 100 % | 92,5 % |
| HPV DNA Urin | 84,3 % | 97,5 % |
Pencegahan Kanker Serviks
Pencegahan kanker serviks dapat dicegah sejak dini dengan melakukan vaksin HPV, saat ini vaksin HPV sudah masuk dalam program imunisasi nasional pada anak perempuan mulai usia 9 – 13 tahun. Selain itu sebaiknya dilakukan beberapa langkah pencegahan sebagai berikut :
- Melakukan hubungan seks dengan aman menggunakan kondom
- Menghindari hubungan seksual lebih dari satu pasang
- Menjalankan pemeriksaan deteksi kanker serviks secara berkala agar penanganan lebih cepat apabila ada lesi pra-kanker
Jika Anda tertarik untuk melakukan pemeriksaan kanker serviks dengan mudah dan nyaman ayo deteksi dini dengan pemeriksaan HPV DNA urin yang bisa dilakukan secara mandiri, mudah digunakan dan tidak invasive. Anda dapat melakukan pendaftaran di aplikasi DNAandMe atau dapat menghubungi Call Center Diagnos di 1500-358 atau di Whatsapp Call Center di 08551500358
BACA JUGA : FAKTA Yang Harus Kamu Ketahui Tentang KANKER SERVIKS
Referensi :
- The Global Cancer Observatory. The Global Cancer Observatory – Indonesia. Diakses Februari 2024
- Cervical Cancer. World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2024
- Human Papillomavirus DNA versus Papanicolaou Screening Tests for Cervical Cancer. The New- England Medica Review and Journal. Diakses Februari 2024
- Diagnostic Performance of Urine-based HPV – DNA Test. Indonesian Journal of Obstretic and Gynecology.
- Usefulness Analysis of Urine Sample for Early Screening of Human Papilloma Virus Infection. Journal of Cancer Prevention. Diakses Februari 2024.