Apa itu Tuberkulosis ?
Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu 10 penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia. Penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia menempati peringkat kedua setelah India, menurut data di tahun 2022 terdapat 1.060.000 estimasi kasus di Indonesia dengan angka 16.528 mengalami kematian.
Tuberkulosis adalah penyakit kronis yang dapat menular dari satu orang ke orang lain yang disebabkan oleh paparan infeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penularan TBC dapat terjadi ketika seseorang menghirup percikan ludah saat seseorang yangterinfeksi TBC bersin atau batuk. Infeksi TBC utamanya menyerang organ paru – paru namun juga dapat menyerang organ lain seperti kulit, selaput otak, tulang, kelenjar getah bening.
TBC memiliki dua kategori yaitu:
1. Infeksi tuberkulosis aktif.
Penderita memiliki gejala utama yaitu batuk tak kunjung sembuh lebih dari 3 minggu dengan atau tanpa batuk darah dan mudah menularkan bakteri TBC ke orang lain.
2. Infeksi tuberkulosis laten.
Penderita tidak mengalami gejala apapun dan tidak dapat menularkan bakteri TBC ke orang lain, namun jika tidak segera mendapatkan pengobatan akan menjadi aktif dan menimbulkan gejala.
Lalu bagaimana mendiagnosa infeksi TBC jika gejala nya tidak dialami penderita? Diagnosa TBC selain melakukan pemeriksaan fisik, dokter biasanya akan menambahkan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan Tuberculin Skin Test (TST) atau pemeriksaan Interferon Gamma Release Assay (IGRA).
Tuberkulin skin tes, sesuai namanya dilakukan pemeriksaanya di kulit dengan memasukkan cairan Purified Protein Derived (PPD), sedangkan tes IGRA dilakukan dengan pemeriksaan darah untuk mendeteksi kadar protein tubuh setelah terpapar TBC. Untuk hasil pemeriksaan dengan tes IGRA sensitivitas dan spesifisitasnya lebih tinggi dibandingkan TST, dan untuk pemeriksaanya tes IGRA lebih efisien karena hanya membutuhkan satu kali kedatangan sedangkan TST perlu dua kali pemeriksaan. Tes IGRA juga dilakukan sebagai identifikasi jenis TBC yang mengenai tubuh apakah jenis TBC laten atau TBC aktif.
Keuntungan lainnya apabila dilakukan tes IGRA adalah hasilnya tes nya tidak akan memengaruhi hasl tes lain apabila ada tes lain yang akan dilakukan dan hasil tes juga tidak terpengaruh oleh vaksinasi TB yang pernah dilakukan.
Apa tujuan dilakukan tes IGRA ?
Sesuai namanya, tes IGRA bertujuan untuk memeriksan interferon-gamma (IFN-g) di dalam tubuh. Interferon-gamma adalah protein yang dihasilkan tubuh saat terinfeksi bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Seseorang yang menderita TBC saat diperiksa tes IGRA akan melepaskan IFN-g ketika serum darah yang diambil berekasi dengan antigen.
Tes IGRA bisa dilakukan pada seseorang yang diduga memiliki penyakit TBC, menurut CDC terdapat kategori kelompok berisiko tinggi yang memiliki prioritas untuk dilakukan pemeriksaan IGRA di antaranya:
- Tenaga kesehatan
- Usia lanjut
- Anak – anak
- Orang yang kontak dengan penderita TBC aktif
- Orang dengan imunitas rendah : penderita HIV
- Perokok aktif
Bagaimana interpretasi hasil tes IGRA?
Hasil tes IGRA akan di dapatkan setelah 24 jam pemeriksaan, dengan keterangan sebagai berikut:
Hasil positif
Hasil pemeriksaan mengindikasikan bahwa pasien terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis (MTB). Hasil positif tidak dapat membedakan antara infeksi MTB aktif atau laten. Hasil positif juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacteria non-tuberkulosis di waktu yang lampau. Pada pasien dengan risiko rendah terkena infeksi MTB, hasil positif harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Manifestasi klinis, gambaran radiologis dan parameter laboratorium lainnya harus dipertimbangkan untuk menentukan diagnosis dan penatalaksanaan pasien.
Hasil indeterminate
Kemungkinan ada atau tidaknya infeksi Mycobacterium Tuberculosis (MTB) belum dapat ditentukan. Hasil indeterminate hanya terjadi pada 2.5% kasus, pemeriksaan ulang sebaiknya dilakukan setelah interval 8-10 minggu. Jika pada pemeriksaan ulangan masih didapatkan hasil indeterminate, pasien disarankan untuk menjalani prosedur pemeriksaan yang berbeda.
Hasil negative
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kemungkinan adanya infeksi aktif atau laten oleh Mycobacterium Tuberculosis (MTB) relatif rendah. Namun pada pasien dengan gangguan imunitas atau kehamilan, hasil negatif harus dinterpretasikan secara hati-hati, dengan juga mempertimbangkan faktor klinis lainnya. Selain itu, hasil negatif juga dapat ditemukan pada pasien dengan infeksi MTB yang terjadi kurang dari 8 minggu. Pada pasien dengan faktor risiko tinggi terinfeksi MTB, sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang. Manifestasi klinis, gambaran radiologis dan parameter laboratorium lainnya harus dipertimbangkan untuk menentukan diagnosis dan penatalaksanaan pasien.
Jika Anda tertarik untuk melakukan pemeriksaan tes IGRA di Laboratorium Diagnos. Anda dapat melakukan pendaftaran di aplikasi DNAandMe atau dapat menghubungi Call Center Diagnos di 1500-358 atau di Whatsapp Call Center di 08551500358.
BACA JUGA : Tes IgE Panel Indonesia: Deteksi 54 Jenis Alergen
download juga aplikasi dnaandme by Diagnos:
Google Play : https://s.id/diagnosandroid
IOS : https://s.id/diagnosIOS
Referensi :
- Indonesia Masuk Jajaran Negara Penyumbang Kasus TBC Terbanyak di Dunia. Databooks. Diakses Maret 2024. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/03/20/indonesia-masuk-jajaran-negara-penyumbang-kasus-tbc-terbanyak-di-dunia
- Tuberkulosis. Kemenkes RI. Diakses Maret 2024. https://ayosehat.kemkes.go.id/topik-penyakit/infeksi-pernapasan–tb/tuberkulosis
- Petunjuk Teknis Penanganan Infeksi Laten Tuberkulosis. Kemenkes RI. Diakses Maret 2024. ISBN 978-602-416-957-2
- Interferon Gamma Release Assay Test (IGRA Test). NSW Health. Diakses Maret 2024. https://www.health.nsw.gov.au/Infectious/tuberculosis/Pages/interferon-gamma-release-assay-test.aspx