Zat besi merupakan salah satu trace element yang esensial bagi tubuh. Pasokan besi umumnya diperoleh dari proses daur ulang besi hemoglobin pada eritrosit tua yang telah difagositosis oleh makrofag, serta absorpsi makanan atau suplemen besi oleh duodenum. Besi paling banyak tersimpan dalam bentuk hemoglobin (pada eritrosit) sekitar 65%, serta ferritin dan hemosiderin (pada liver, sumsum tulang dan limpa) sekitar 30%. Besi yang bersirkulasi di dalam darah diketahui berikatan dengan protein transferrin. Adapun kadar besi dalam darah dapat diketahui melalui pemeriksaan besi serum (serum iron / SI).
Panel pemeriksaan SI, TIBC dan saturasi transferrin seringkali digunakan sebagai indikator defisiensi besi, terutama anemia defisiensi besi. Pada kondisi defisiensi besi, kadar SI diketahui menurun dan kadar TIBC meningkat, sehingga menyebabkan saturasi transferrin menjadi rendah. Namun, ketiga parameter tersebut tidak direkomendasikan untuk diagnosis primer defisiensi besi tanpa disertai dengan parameter ferritin.
Pemeriksaan SI dapat digunakan untuk diagnosis dan monitoring keracunan besi (iron poisoning). Keracunan besi bersifat fatal dan dapat menyebabkan kematian pada pasien anak < 5 tahun. Adapun panel pemeriksaan SI, TIBC dan saturasi transferrin direkomendasikan untuk mengevaluasi kondisi iron overload, terutama untuk screening kelainan herediter hemokromatosis.