HVirus Hepatitis B (HBV) merupakan virus DNA dalam famili Hepadnaviridae yang menginfeksi sel hepatosit. HBV ditransmisikan melalui paparan perkutan atau mukosal dari darah atau cairan tubuh, baik secara horizontal (kontak seksual, transfusi darah, penggunaan jarum suntik bersama) maupun vertikal (transmisi dari ibu ke bayi baru lahir). Infeksi HBV memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi pada sebagian besar pasien dewasa imunokompeten (>95%). Namun, infeksi akut HBV juga dapat berkembang menjadi penyakit kronis. Adapun pada sebagian pasien immunocompromised, infeksi HBV kronis dapat berkembang menjadi sirosis dan karsinoma hepatoseluler.
Hepatitis B surface Antigen (HBsAg) merupakan komponen selubung luar (external envelope) yang bersifat non-infeksius dari partikel HBV. HBsAg menjadi biomarka serologis yang pertama kali muncul dalam waktu 1 – 10 minggu setelah paparan HBV. Terdeteksinya HBsAg mengindikasikan adanya infeksi HBV akut ataupun kronis. Pada infeksi HBV akut, HBsAg biasanya akan hilang dalam waktu 1 – 2 bulan setelah timbulnya gejala yang diiringi dengan fase penyembuhan (recovery). Keberadaan HBsAg yang persisten lebih dari 6 bulan mengindikasikan adanya infeksi HBV kronis.
Pemeriksaan HBsAg digunakan untuk diagnosis infeksi HBV akut ataupun kronis, memantau perjalanan penyakit dan respon terapi, serta menentukan status infeksi HBV kronis. Selain itu, pemeriksaan HBsAg dapat digunakan sebagai pemeriksaan skrining prenatal pada ibu hamil untuk mencegah penularan HBV pada bayi baru lahir. Adapun pemeriksaan HBsAg juga digunakan untuk mendeteksi HBV pada donor darah sebagai upaya pencegahan penularan HBV melalui darah dan produk darah.