Ferritin merupakan protein pengikat besi yang tersimpan di dalam liver, sumsum tulang dan limpa sebagai cadangan persediaan zat besi bagi tubuh. Satu molekul ferritin memiliki berat ± 450 kDa yang dapat mengikat ± 4500 atom besi.
Pemeriksaan ferritin menjadi salah satu parameter utama untuk menegakkan diagnosis defisiensi besi. Konsentrasi ferritin dapat mendiskriminasi anemia defisiensi besi dari tipe anemia lainnya. Kadar ferritin pasti menurun pada anemia defisiensi besi, namun dapat normal atau sedikit meningkat pada thalassemia dan anemia penyakit kronik. Kadar ferritin normal belum dapat mengeksklusi defisiensi besi pada pasien komorbid dengan inflamasi karena ferritin juga merupakan protein reaktan fase akut positif yang kadarnya meningkat pada kondisi inflamasi, sehingga dibutuhkan pemeriksaan profil besi atau soluble transferin receptor (STfR) untuk mendukung diagnosis.
Pemeriksaan ferritin juga digunakan untuk mengevaluasi kondisi iron overload seperti hemokromatosis dan hemosiderosis.