Aspirin merupakan kelompok obat anti-trombosit yang digunakan untuk stroke iskemik, sindrom koroner akut dan infark miokard. Aspirin memiliki kemampuan untuk menginhibisi aktivitas cyclooxygenase (COX)-1 secara ireversibel yang akan mengurangi produksi thromboxane A2, sehingga mencegah terjadinya agregasi trombosit selama 7-10 hari sesudah obat dihentikan. Aspirin sering digunakan bersama dengan klopidogrel sebagai dual terapi pada sindrom koroner akut.
Sebagian pasien diketahui tidak menunjukkan respon terapi aspirin seperti yang diharapkan. Respon terapi yang tidak adekuat secara signifikan meningkatkan risiko infark miokard, stent trombosis, hingga kematian. Sementara itu, respon terapi berlebihan (hyper-response) meningkatkan risiko perdarahan. Adapun faktor-faktor yang dapat memengaruhi respon terapi aspirin meliputi variabilitas genetik, interaksi obat (proton pump inhibitors, enteric-coated aspirin), kondisi komorbid (diabetes), serta ketidakpatuhan pasien selama terapi.
Platelet funtion test dapat digunakan untuk pemantauan terapi aspirin. Prinsip pemeriksaan tersebut yaitu deteksi respon trombosit terhadap aspirin melalui pengukuran aktivitas agregasi yang diaktivasi oleh agonis asam arakidonat. Trombosit yang teraktivasi akan berikatan dengan fibrinogen dan terjadi agregasi. Jika aspirin memberikan efek anti-trombosit seperti yang diharapkan, aktivitas agregasi trombosit akan jauh berkurang.