Pre-Implantation Genetic Screening’ Atasi Pasangan yang Sulit Punya Anak

Berapa banyak pasangan yang susah punya anak lalu melakukan program bayi tabung di luar negeri. Tak usah ke negeri orang. Di negeri kita sendiri saja, ternyata juga banyak yang memiliki layanan program bayi tabung. Tak terkecuali RS BundaMedik, yang kali ini memperkenalkan teknologi terbaru yang baru pertama kali ada di Indonesia.

Nama teknologinya, Pre-Implantation Genetic Screening’ (PGS). Ya, Bunda Medik Healthcare System melalui rantai klinik bayi tabung Morula IVF Indonesia mengadopsi teknik PGS dari lembaga Reproductive Health Science ltd (RHS) Australia, ini. Teknologi ini dapat membantu menyeleksi embrio lebih baik dan meningkatkan kemungkinan implantasi sampai 50% lebih tinggi.

“Penerapan teknologi ini bagian dari rangkaian perayaan kiprah 17 tahun berkaryanya Morula IVF Indonesia yang mengusung tema ‘Morula Life’ sekaligus meningkatkan mutu dan pelayanan Morula IVF Indonesia sebagai pusat fertilitas terbaik di Indonesia,” tandas Direktur Pengembangan Produk dan Teknologi PT Bunda Medik Health System, Dr. Ivan R Sini SpOG, di RSU Bunda, Menteng, Jakarta.

Dokter Ivan yang juga menangani proses kelahiran artis Olla Ramlan itu, menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan laboratorium untuk mendapatkan jawaban analisa kromoson dari satu sample sel yang dalam hitungan jam sampai maksimal 24 jam. Proses ini dikenal sebagai Pre Implantation Genetic Screening (PGS).

“Teknologi untuk melakukan pemeriksaan analisa kromoson ini sebenarnya sudah dicoba para ahli sejak 30 tahun lalu, tetapi hanya bisa mendeteksi 3 kromosom yaitu 13, 18, dan 21. Itu pun dibutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan manusia mempunyai 23 pasang kromosom dan 1 kromosom seks. Maka dicarilah cara untuk mendeteksi 24 kromosom itu pada manusia yaitu dengan teknologi terbaru yang saat ini berkembang, yaitu array-comparative Genomic Hybridization atau aCGH,” paparnya.

Dengan teknologi itu memungkinkan laboratorium untuk mendapatkan jawaban analisa kromoson dari satu sample sel yang dalam hitungan jam sampai maksimal 24 jam. Proses ini dikenal sebagai Pre Implantation Genetic Screening (PGS). Ini terobosan teknologi terbaru pertama di Indonesia untuk meningkatkan angka implantasi atau penempelan embrio pada rahim sehingga dapat menurunkan angka keguguran serta meningkatkan angka kelahiran bayi hidup.

Teknologi ini untuk menjawab masalah infertilitas di Indonesia. Saat ini diperkirakan ada sekitar 3 juta pasangan di Indonesia yang mengalami kesulitan mempunyai anak. Meskipun saat ini program keseuburan seperti program Invitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung telah cukup diterima sebagai upaya dengan teknologi reproduksi yang dapat memberikan kemungkinan keberhasilan kehamilan paling baik. Namun, masih banyak kendala terutama dalam angka keberhasilan yang masih relatif belum optimal.

“Saat ini angka keberhasilan program bayi tabung telah mencapai angka yang cukup baik yang berkisar 40% dikarenakan banyaknya perubahan teknologi di laboratorium yang menunjang perbaikan sistem kultur embrio. Akan tetapi, dengan sistem terbaik sekalipun, angka keberhasilan program masih terbatas pada kemungkinan besar kegagalan karena adanya permasalahan dengan kelainan kromosom pada embrio,” tuturnya.

Diketahui, sekitar 80% dari telur yang diproduksi manusia bersifat aneuploidy yang berarti mempunyai kelainan pada kromosom yang berakhir pada embrio yang tidak normal, yang berdampak pada kegagalan kehamilan atau terjadinya keguguran. Cara yang berlaku umum di laboratorium embryologi dalam menentukan embrio mana yang dianggap ‘normal’ adalah dengan menganalisasi bentuk/morfologi embrio.

“Dengan cara ini pun embrio yang dikatakan ‘good’ atau ‘excellent’ hanya mempunyai kemungkinan implantasi sekitar 30% – 40%. Selain itu, jika terjadi kehamilan masih kemungkinan terjadinya keguguran, kematian bayi atau kelahiran bayi dengan kelainan kromosom,” tambahnya.

CEO RHS Australia, Dr. Michelle Fraser, PhD, mengatakan, data di Australia menunjukkan teknik PGS ini dapat membantu menyeleksi embrio lebih baik dan meningkatkan kemungkinan implantansi sampai 50% lebih tinggi.

“Sebagai institusi kesehatan masyarakat yang berfokus pada kesehatan Ibu dan anak, kami bertanggung jawab untuk terus berinovasi baik secara teknologi maupun pelayanan demi kepentingan pasien,” katanya.

Selain itu, pihaaknya pun terbuka untuk mengadaptasi kemajuan ilmu pengetahuan yang terus berjalan cepat di industri kesehatan dunia yang tujuannya untuk semakin mempermudah dan membantu para pelaku jasa pelayanan kesehatan.

“Kami bangga dapat memperkenalkan teknologi PGS yang saat ini tengah marak di industri kesehatan khusus program bayi tabung dunia ke masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Dengan adanya teknologi ini tentunya akan semakin membantu para dokter kandungan untuk mengetahui dan menentukan apakah ada kelainan kromosom pada embryo pasien yang akan ditanamkan. Dengan begitu, dapat meningkatkan presentasi keberhasilan kehamilan dan memperkecil resiko terlahirnya bayi-bayi yang memiliki kelainan kromosom dan dapat mencetak kelahiran bayi-bayi dari program bayi tabung yang sehat.

Tahapan alih teknologi PGS ini akan berlangsung selama 3 bulan. Pada tahapan awal akan ada penelitian bersama yang akan dipandu Indonesian Reproductive Science Institute (IRSI) untuk memberikan jawaban mengenai hubungan morphology scoring dengan kelainan kromosom. Pasien yang telah mengalami kegagalan bayi tabung berulang atau keguguran berulang adalah kriteria yang dapat menggunakan teknologi ini pada tahap awal tanpa dikenai biaya screening, diluar biaya program bayi tabung.